
Banyak orang mengira asma hanya dialami sejak masa kanak-kanak. Padahal, asma juga bisa baru muncul ketika seseorang sudah dewasa. Kondisi ini dikenal sebagai adult-onset asthma atau asma onset dewasa.
Kemunculannya terkadang mengejutkan karena sebelumnya seseorang tidak pernah memiliki riwayat asma. Batuk yang berulang, dada terasa berat, atau napas berbunyi mungkin justru dianggap sebagai masuk angin, alergi biasa, atau kelelahan.
Padahal, jika keluhan tersebut muncul berulang dan memiliki pola tertentu, asma perlu dipertimbangkan. Mengenali pemicu dan ciri khasnya dapat membantu seseorang mendapatkan pemeriksaan serta penanganan yang sesuai. Berikut penjelasan indodoc yang harus diketahui.
Apa Itu Asma pada Orang Dewasa?
Asma merupakan penyakit kronis yang memengaruhi saluran pernapasan. Pada penderita asma, saluran napas dapat menjadi lebih sensitif sehingga mengalami peradangan dan penyempitan ketika terpapar pemicu tertentu.
Penyempitan saluran napas inilah yang dapat menyebabkan udara lebih sulit keluar-masuk. Akibatnya, muncul keluhan seperti sesak, batuk, dada terasa tertekan, atau suara napas berbunyi.
Asma dapat memiliki pola yang berbeda pada setiap orang. Ada yang gejalanya muncul setiap hari, sementara lainnya hanya mengalami keluhan ketika terpapar pemicu tertentu.
Yang menarik, asma tidak selalu dimulai pada masa kanak-kanak. Seseorang yang sebelumnya tidak pernah mengalami asma tetap dapat mengembangkan kondisi ini saat dewasa.
Mengapa Asma Bisa Baru Muncul Saat Dewasa?
Penyebab pasti asma pada orang dewasa tidak selalu dapat ditentukan. Kondisi ini biasanya berkaitan dengan kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
Paparan alergen atau iritan secara berulang dapat berperan pada sebagian orang. Perubahan lingkungan, pekerjaan tertentu, infeksi saluran pernapasan, alergi, obesitas, hingga perubahan hormonal juga dapat berkaitan dengan munculnya gejala.
Pada sebagian perempuan, perubahan hormon selama periode tertentu dapat memengaruhi gejala pernapasan.
Selain itu, lingkungan kerja juga perlu diperhatikan. Paparan debu, asap, bahan kimia, tepung, serbuk tertentu, atau zat iritan lainnya dapat memicu masalah pernapasan pada orang yang sensitif.
Ciri Khas Asma yang Perlu Dikenali
Gejala asma dapat menyerupai berbagai gangguan pernapasan lainnya. Namun, ada beberapa ciri yang patut diperhatikan.
1. Sesak Napas yang Berulang
Sesak dapat muncul secara tiba-tiba dan kemudian membaik. Pada sebagian orang, keluhan lebih sering muncul malam atau menjelang pagi.
2. Napas Berbunyi Wheezing
Wheezing adalah suara seperti siulan atau bunyi “ngik-ngik” ketika bernapas. Suara ini dapat muncul ketika saluran napas mengalami penyempitan.
3. Batuk Berulang
Batuk akibat asma dapat menjadi gejala utama, bahkan tanpa sesak yang jelas. Batuk sering kali memburuk pada malam hari, setelah berolahraga, atau ketika terpapar udara dingin.
4. Dada Terasa Berat
Sebagian orang menggambarkan keluhannya seperti dada tertekan atau terasa sulit mengembang ketika bernapas.
5. Gejala Datang dan Pergi
Salah satu karakteristik yang perlu diperhatikan adalah gejala tidak selalu menetap. Seseorang mungkin merasa baik-baik saja selama beberapa hari, kemudian mengalami keluhan setelah terpapar pemicu tertentu.
Apa Saja Pemicu Asma pada Orang Dewasa?
Pemicu asma sangat individual. Sesuatu yang memicu serangan pada satu orang belum tentu memberikan efek sama pada orang lain.
Beberapa pemicu yang cukup umum antara lain:
- Debu dan tungau.
- Serbuk sari tanaman.
- Bulu atau serpihan kulit hewan.
- Asap rokok.
- Polusi udara.
- Udara dingin.
- Aktivitas fisik tertentu.
- Infeksi saluran pernapasan.
- Parfum atau bahan kimia dengan aroma menyengat.
- Stres atau emosi yang intens.
Mencatat kapan gejala muncul dapat membantu menemukan pola. Misalnya, apakah sesak muncul setelah membersihkan rumah, berada di lingkungan kerja tertentu, berolahraga, atau ketika udara sedang dingin.
Asma atau Bukan? Jangan Langsung Menyimpulkan
Tidak semua batuk dan sesak berarti asma.
Keluhan serupa dapat ditemukan pada alergi, penyakit paru lainnya, infeksi saluran pernapasan, gangguan jantung, refluks asam lambung, atau kondisi lain.
Inilah alasan diagnosis tidak sebaiknya hanya berdasarkan gejala.
Dokter dapat menanyakan pola keluhan, riwayat alergi, lingkungan kerja, kebiasaan merokok, serta faktor lain. Pemeriksaan fungsi paru seperti spirometri dapat digunakan untuk membantu menilai apakah terdapat hambatan aliran udara dan bagaimana responsnya terhadap terapi tertentu.
Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan tambahan dapat diperlukan untuk membedakan asma dari masalah kesehatan lainnya.
Apakah Asma pada Orang Dewasa Bisa Dikendalikan?
Asma merupakan kondisi yang dapat berlangsung jangka panjang, tetapi gejalanya dapat dikendalikan dengan penanganan yang tepat.
Pengobatan disesuaikan dengan tingkat keparahan dan pola gejala. Dokter dapat memberikan obat pengontrol untuk mengurangi peradangan saluran napas dan obat pereda untuk membantu mengatasi gejala tertentu.
Penggunaan inhaler juga perlu dilakukan dengan teknik yang benar. Kesalahan cara menggunakan inhaler dapat membuat obat tidak bekerja secara optimal.
Jangan mengubah dosis atau menghentikan obat secara tiba-tiba tanpa berkonsultasi dengan dokter.
Cara Mengurangi Risiko Gejala Kambuh
Mengetahui pemicu pribadi merupakan langkah penting. Jika debu menjadi pemicu, misalnya, menjaga kebersihan ruangan dan mengurangi sumber debu dapat membantu.
Hindari asap rokok, termasuk asap rokok dari orang lain. Jika gejala berkaitan dengan pekerjaan, diskusikan dengan tenaga kesehatan mengenai langkah perlindungan yang sesuai.
Aktivitas fisik juga tidak selalu harus dihindari. Dengan pengelolaan asma yang baik, banyak penderita tetap dapat berolahraga. Jenis dan intensitas aktivitas sebaiknya disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Selain itu, menjaga berat badan sehat, mendapatkan tidur cukup, dan menangani alergi atau kondisi lain yang menyertai dapat mendukung pengendalian gejala.
Kapan Harus Segera Mendapatkan Pertolongan?
Serangan asma berat dapat menjadi kondisi darurat.
Segera cari pertolongan medis apabila sesak semakin berat, sulit berbicara karena kehabisan napas, bibir atau wajah tampak kebiruan, terasa sangat lemah, atau obat pereda yang biasanya membantu tidak memberikan perbaikan.
Jangan menunggu gejala menjadi semakin parah jika kemampuan bernapas terus menurun.
FAQ Seputar Asma pada Orang Dewasa
1. Apakah orang yang tidak pernah asma saat kecil bisa terkena asma ketika dewasa?
Bisa. Asma dapat muncul pertama kali pada usia dewasa dan dipengaruhi berbagai faktor genetik maupun lingkungan.
2. Apakah batuk malam hari selalu berarti asma?
Tidak selalu. Batuk malam hari juga dapat disebabkan refluks asam lambung, alergi, infeksi, atau kondisi lainnya. Jika berulang, sebaiknya diperiksa.
3. Apakah asma bisa sembuh total?
Asma merupakan penyakit kronis. Pada sebagian orang gejalanya dapat sangat jarang muncul, tetapi kondisi tersebut tetap perlu dikelola sesuai anjuran tenaga kesehatan.
4. Apakah olahraga berbahaya bagi penderita asma?
Tidak selalu. Banyak penderita asma tetap dapat berolahraga. Pengelolaan yang baik dan pemilihan aktivitas yang sesuai dapat membantu mengurangi risiko gejala.
5. Apakah asap rokok dapat memicu asma?
Ya. Asap rokok merupakan salah satu iritan yang dapat memperburuk gejala dan meningkatkan risiko masalah pernapasan.
6. Bagaimana dokter memastikan seseorang mengalami asma?
Dokter dapat mengevaluasi pola gejala dan melakukan pemeriksaan fungsi paru, seperti spirometri. Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan jika diperlukan.
7. Kapan sesak napas harus diperiksa?
Sesak yang berulang, muncul tanpa penyebab jelas, mengganggu aktivitas atau tidur, atau disertai suara napas berbunyi sebaiknya diperiksakan. Sesak berat yang membuat sulit berbicara atau bernapas membutuhkan pertolongan segera.
Kesimpulan
Asma bisa muncul untuk pertama kalinya ketika seseorang sudah dewasa. Gejalanya dapat berupa sesak napas berulang, batuk terutama pada malam hari, dada terasa berat, dan napas berbunyi wheezing.
Pemicu setiap orang dapat berbeda, mulai dari debu, asap rokok, udara dingin, alergi, infeksi, aktivitas fisik, hingga paparan tertentu di tempat kerja. Karena gejala asma dapat menyerupai penyakit lain, diagnosis sebaiknya dilakukan melalui pemeriksaan medis, termasuk evaluasi fungsi paru bila diperlukan.
Jangan menganggap batuk atau sesak yang berulang sebagai keluhan biasa. Semakin cepat penyebabnya diketahui, semakin mudah menentukan langkah untuk mengendalikan gejala dan menjaga aktivitas sehari-hari tetap nyaman.
